setiap nafasku di dalam detak jantung tak pernah aku meragu hanya engkau yang di hatiku berlelah-lelah dahulu bersenang-senang kemudian tiada suatu yang besar tanpa perjuangan yang hebat air yang mengalir jernih tak akan keruh menggenang jangan surutkan langkah yakin dan penuh ketulusan man jadda wajada, man jadda wajada Itu adalah potongan dari lagunya Yovie Nuno Man Jadda Wa jada. Source: http://liriklaguindonesia.net/yovie-nuno-man-jadda-wajada-ost-negeri-5-menara.htm#ixzz1oTupLOTeTak sengaja aku pertama mendengar lagu ini habis nonto film Negeri 5 Menara di sebuah Pusat Perbelanjaan di Kota Solo. Niatnya sich sambil refreshing sama adik perempuanku. Itung-itung melepas penat lah. Melepas kekecewaan akibat tidak bertemu langsung dengan seseorang yang sudah aku tunggu wisudanya di sebuah kampus negeri di kota Solo. Aku jarang nonton film kecuali yang bagus-bagus seperti ini. Sudah hampir dua tahun yang lalu aku baca novelnya. Film ini adalah motivasi buatku, inspirasi. Inspirasi bagaimana caranya menaklukkan hati kaum hawa. Saat nonton film itu, kadang terbersit mau nulis sms "Hey, aku lagi nonton Negeri 5 Menara, kamu udah nonton belum?" Tapi karena masih kecewa aku urungkan. Aku nikmatin saja film itu. Tertawa saja dengan adegan-adegan lucu dan menghibur. Banyak nasehat dari film ini. Kata-kata yang paling aku ingat adalah "Bukan siapa yang paling tajam, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh".
Aku sendiri pun bingung, apakah aku sudah sungguh-sungguh memperebutkan hatinya. Bagaimana caranya agar aku tidak terlalu seronok macam anak muda alay jaman sekarang. Cinta bagiku memberi, tapi aku ingin mendapatkan cinta agar aku lebih leluasa mencurahkan perhatian kepadanya. Sampai akhirnya film itu usai, aku ngeloyor cari toilet. Setelah keluar aku melihat seseorang memakai jilbab merah dan baju putih. Berbisik hatiku, "hey, itu kan dia, wanita yang kemarin wisuda." Aku jawab "halah, ngaco kamu. Bagaimana bisa, bukannya dia harusnya pulang kampung merayakan kesuksesannya itu?". Hampir aku berantem sama diriku sendiri. "Mungkin kamu benar, tapi koq seperti halusinasi gitu ya?" "Sakkarepmu!". Kemudian aku hanya memandangnya sekali, astaghfirullah, hati ini berdesir. Aku memang baru ketemu dia dua kali. Agak lupa juga seperti apa dia. Dia menghilang, kemudian adikku datang. Kami berdua pulang. Aku masih menyimpang kesedihan yang mendalam, heuheu.
Paginya buka facebook dari warnet. Iya warnet, habis broadband di kampung belum ada. Iseng-iseng buka profilnya si dia. Hemm, dia pasang status berada di Grand 21, 18 Jam yang lalu, sedang film Negeri 5 Menara. Lhoh! Aku bengong seperti sapi yang sedang melihat ufo mendarat di padang rumput. Itu kan sama aku kemarin nonton bareng. Ih, nonton bareng ini maksudnya nonton di ruangan yang sama pada jam yang sama, bukan nge-date. Kami kan belum nikah, hahaha. Nikah? Ya Allah, mudahkanlah. Sungguh beruntung hamba ini jika bisa menikahi dia dan hidup bahagia. Terus dah sms, "Kemarin di Grand 21 ya? Jam ... Nonton Negeri 5 Menara?" Menunggu sepuluh menit, "Hehe, Iya...." waaaa!!!! Aku kembali merutuki diriku sendiri, kenapa ga nanya kemarin ya? hiks T____T
Sudahlah, gimana ya... Sekarang dah harus balik ke Jakarta. Mau PDKT lewat siapa, dengan apa, bagaimana. Begitulah pertanyaan yang menggelayut. Lirik lagu Man Jadda Wa Jada itu koq seakan-akan memberi semangat bagiku. Istilah anak Jakarte, gw banget gitu loch. Pas banget lagu itu diputer saat aku hanya-mungkin-berjarak-10 meter dari dia. Ini ceritanya lagi galau teman-teman. Ada saran, ide, wejangan, wedangan juga boleh. :D
Kalau si dia baca cerita ini, waduh mau ditaruh di mana mukaku yach? Mana dia tahu aku punya multiply. Ini sudah dunia lain, hehehe.
Masih ingat novel best seller Laskar Pelangi kan? Benar, novel ini adalah tulisan Andrea Hirata yang mengisahkan perjalanan hidupnya sewaktu kecil. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa novel ini sempat mendapatkan penolakan berkali-kali. Tapi Andrea tidak menyerah dia terus mencari penerbit dan jadilah novel ini best seller. Penerbit sebelumnya hanya bisa gigit jari setelah penjualannya terbit ulang beberapa kali. Bahkan film dari novel ini laris manis di bioskop. Tak selesai sampai di situ. Sebuah rumah produksi membuat Laskar Pelangi menjadi sinetron. Awal yang penuh seringkali menjadi akhir yang sangat menggembirakan.
Alexander Graham Bell adalah seorang ilmuan. Beberapa temuannya dianggap mainan anak-anak oleh Bank yang dimintai kredit untuk memproduksinya. Akhirnya sekarang orang tahu bahwa temuannya ini seakan menjadi barang wajib bagi setiap orang. Telepon di jaman itu adalah bentuk awal dari pengembangan telepn selluler di masa sekarang. Bahkan telepon kabel pun masih banyak digunakan.
Kedua contoh ini mungkin sudah cukup bahwa penolakan itu sebenarnya adalah anugerah. Anugerah untuk mendapatkan yang lebih baik lagi. Kesempatan itu terbentang luas di depan kita. Pandangan kita terbatas. Akan tetapi pandangan iman dan keyakinan kita bisa melihat sangat jauh. Itulah intuisi yang terasah oleh doa dan tawakkal seorang hamba kepada Allah. Penolakan menjadi anugerah jika selalu diiringi oleh sikap mental positif. Salah satu syarat untuk menumbuhkan sikap mental positif itu adalah memiliki tujuan spesifik.
"Tujuan yang spesifik membentuk sikap mandiri, inisiatif pribadi, imajinasi, antusiasme, disiplin diri, dan usaha yang terfokus. Kesemuanya adalah syarat kesuksesan." (Napoleon Hill)
Selalu banyak orang berlindung di balik kata "yang terbaik". Setiap orang memiliki akal untuk memilih apa yang menjadi kecenderungan hatinya. Sangat aneh bila seseorang berdoa "Ya Allah berilah hamba nilai yang terbaik." Masalahnya orang yang berdoa ini akan sedih jika dia mendapatkan nilai 60 padahal ingin sekali mendapatkan nilai 90 ke atas. Sebagai contoh lain adalah, "Ya Allah, hamba apapun hasil ujian ini, jadikan yang terbaik." Padahal ujiannya belum mulai dan dia akan sedih jika tidak lulus. Apa susah bagi Allah mengabulkan doa seorang hamba? Kalau tujuan tidak spesifik, cenderung sikap mental ogah-ogahan untuk berikhtiar.
Perlu menegakkan kepala kalau asa belum diraih. Contoh paling gampang kalau melamar akhwat lah. Kalau akhwat punya kriteria khusus, sifatnya duniawi misalnya, sepanjang itu tidak melanggar syariat, silakan saja. Setiap orang memiliki preferensi masing-masing. Seorang ikhwan sudah cukup jantan jika mau melakukan proses ta'aruf bahkan khitbah. Sikap ksatria inilah yang seharusnya ikhwan manapun yang sudah melakukannya harus berbesar hati. InsyaAllah, langkah itu sudah dihitung sebagai ibadah. Seringkali orang yang mendapatkan penolakan ini mendapatkan jauh yang lebih baik dari yang sebelumnya. Mirip dengan dua kisah di atas, itu berdasarkan pengalaman.
Preferensi duniawai itu sah-sah saja. Misalnya ada yang ingin cari yang lebih muda, jawa/bule, sudah kerja dsb. Itu tidak dilarang sama agama setahu saya. Sangat aneh jika ada yang bilang, "oh itu nikahnya bukan karena Allah." Tahu apa orang yang mengatakan demikian tentang isi hati manusia. Kenapa penghakiman itu bisa keluar dari mulut seorang yang katanya paham agama. Kalau keinginannya untuk menikahi orang kafir, perampok, penjudi dsb. Itulah yang dilarang. Setiap orang memiliki preferensi masing-masing, sepanjang preferensi itu baik, maka layak dan harus dihormati. Yakinlah, suatu saat, akan ada seseorang yang match preferensinya. Untuk mencarinya perlu penghormatan diri, percaya diri, keberanian, pantang menyerah dsb.
Tidak perlu sedih karena kesedihan yang berlarut hanya akan membuat seseorang kalah dua kali. Terlebih kesedihan itu merusak kinerja di bangku kuliah atau bahkan pekerjaannya. Jika itu terjadi, maka dia sudah kalah tiga kali. Bahkan seseorang perlu bangga jika prasaratnya sudah aneh-aneh. Sering sekali saya mendengar beberapa ikhwan yang gagal menikah lantaran syaratnya harus hafal sekian juz al qur'an, sekian hadist, harus menuntut ilmu agama secara khusus lewat ma'had/pondok, dan/atau bisa bahasa arab. Ilmu di atas sangat penting. Bahkan terdapat indikasi bahwa syarat-syarat yang berat itu merupakan cara seorang akhwat menolak secara kasar. Kasar karena dia memberi syarat yang sangat berat untuk menjatuhkan mental ikhwan. Kenapa saya mengatakan hal ini? Karena saya menengarai bahwa akhwat tadi tidak memiliki kemampuan serupa. Kalau dia memiliki kemampuan di atas, mungkin ini fair. Kalau tidak, mending bilang saja. "saya belum siap". Maksud "Saya belum siap" adalah belum siap menerima Anda yang tidak memiliki kriteria yang saya inginkan. Itu adalah bahasa paling halus yang hampir tidak seorang pun merah telinganya.
Sudahlah, tidak perlu memikirkan akhwat yang "tidak jelas" kalau tidak mau ya sudah. Masih ada akhwat lain. Sabar bukan berarti diam saja. Sabar itu harus berusaha lebih dari sebelumnya. Mungkin usaha yang kurang, mungkin keyakinan belum penuh. Atau mungkin doa yang belum khusyuk dan sungguh-sungguh. Yakinlah tinggal menggali beberapa meter lagi untuk menemukan ladang emas. Buktikan kualitasmu dan biarkan mereka gantian gigit jari nantinya.
*) teruntuk sahabat-sahabatku yang sedang galau hatinya.
Mbak tolong kasih berapa gitu. Seperti itulah staf sebuah kantor pemerintah ketika teman saya sedang menggandakan berkas untuk urusan dinasnya. Mungkin kejadian seperti inilah yang menimbulkan stigma bahwa kantor pemerintah identik dengan korupsi. Ternyata di swasta pun tak jauh beda. Beberapa bulan yang lalu, saya membeli furniture untuk mengisi rumah kontrakan yang baru. Setelah semua barang diturunkan, saya agak heran karena sopir mematung di depan saya. Saya mulai curiga namun tetap bersikap seperti biasa. Saya membiarkan sopir tersebut mengutarakan maksudnya. “Pak, tolong kasih ongkos.” Setahu saya di nota tidak disebutkan biaya pengiriman. Biaya pengiriman sudah termasuk dalam harga furniture yang saya beli. Tapi saya harus membayar “ongkos lain-lain.” Baru saja saya membaca status teman yang kesal karena petugas rumah sakit meminta ongkos foto copy rekam medis seikhlasnya. Padahal rekam medis adalah hak pasien. Kata “seikhlasnya” mengisyaratkan bahwa uang tersebut tidak akan masuk ke dalam kas rumah sakit, melainkan kantong petugas itu sendiri.
Jika kita mendapati pimpinan yang korup, bisa jadi karena rakyatnya sendiri yang korup. Ada sebuah kisah yang cukup menggelitik. Di sebuah negeri, seorang raja memiliki ide bahwa akan ada pesta madu bagi seluruh negeri. Oleh karena itu, rakyatnya diminta membawa satu botol kecil madu yang nantinya dikumpulkan di sebuah gentong raksasa. Setiap orang dipersilakan untuk menuangkan madunya sendiri. Gentong tersebut berada di halaman istana. Pada saat pesta tiba, apa yang terjadi, ternyata isi gentong tersebut berisi air. Karena semua rakyat berpikir, “Ah, saya bawa air saja, toh nantinya kalau bercampur dengan madu dari seluruh penduduk negeri, tidak akan ketahuan.” Pesta akhirnya gagal total dan sang raja murka. Semua penduduk ternyata mengkorupsi perintah raja. Mereka ingin pesta madu, tapi tidak ingin berkorban madu.
Coba tanya kepada setiap orang yang meneriakkan “ganyang koruptor”. Bisa jadi teriakan tersebut di arahkan kepada mereka sendiri yang kadangkala menggunakan handphone black market atau tidak mau mendaftarkan diri menjadi wajib pajak. Para pengusaha masih ada yang membayar pejabat pengadaan agar menang tender. Beberapa orang bahkan rela membayar ratusan juta rupiah agar dia dapat menjadi pegawai negeri sehingga banyak generasi muda yang potensial kalah dengan anak orang berada. Masih banyak orang yang mau disogok untuk memilih caleg atau cagub/cabup. Kalau pimpinannya ternyata kena dugaan korupsi. Jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan saja yang milih. Kalau rakyatnya mau bersih, insyaAllah negara ini juga akan bersih. Kerja KPK juga tidak akan serumit sekarang.
Korupsi timbul karena keserakahan berantai. Sebagian orang ingin dilayani secara istimewa dan memiliki uang lebih. Kemudian mereka melobi pejabat-pejabat agar keinginannya dapat dipenuhi. Akhirnya timbul deal-deal karena pejabatnya serakah oleh uang tersebut. Seperti dalam teori ekonomi, demands makes supply, penerimaan akan menimbulkan penawaran. Akhirnya timbullah multiplier effect korupsi. Dikemudian hari, jika ada orang yang meminta pelayanan, dikenakanlah “tarif lebih.” Tentu lebihnya masuk ke kantong pribadi. Jika pejabat yang mendapat uang tersebut, maka akan terjadi fenomena trickle down effect. Pejabat tadi akan membagi-bagikan uang suap tersebut sebagai ongkos tutup mulut staf-staf yang mengetahuinya. Dari sanalah sejarah korupsi berjamaah. Seperti nasehat indah dari seorang sopir taksi, Jika ingin negara ini menjadi lebih baik, perbaikilah diri kita sendiri.
Siko Dian Sigit Wiyanto
Suatu ketika ada sekelompok karyawan di sebuah perusahaan advertising sedang makan siang bersama di sebuah kantin. Tiba-tiba salah satu diantara mereka membuka pembicaraan. "Eh, tahu ga', kenapa si Bos lebih suka kasih kerjaan ke Si Anu ya?" Karyawan yang lain tak kalah sengit melontarkan kekecewaannya. "Saya sudah bikin desain seharian, eh kata bos tidak bermutu!" Di sebuah ruangan, seorang supervisor sedang berbicara dengan rekan supervisor yang lain. "Pak, saya tidak habis pikir sama karyawan-karyawan kita, kenapa kinerja mereka tidak maksimal." Ternyata rekannya menimpali, "Waduh Pak, jadi mikir, insentif yang saya peroleh ternyata tidak sepadan dengan tanggung jawab saya yang sekarang ini." Tahukah Anda, ketika jam istirahat berakhir. Bagaimana kira-kira suasana kerjanya? Sangat tidak kondusif, gairah kurang, dan semangat nyaris lenyap kecuali untuk minum secangkir kopi di sore hari untuk melepas penat. Akibatnya semua orang akan mudah capek, stres, dan pulang ke rumah masing-masing dengan wajah kusut. Bisa dibayangkan, dalam jangka waktu tertentu kinerja perusahaan akan anjlok. Kondisi emosi seorang karyawan akan drop dan bukan tidak mungkin mereka akan mudah terserang penyakit. Jika dia seorang front officer yang langsung menangani pelanggan seperti kasir atau customer service, bukan tidak mungkin pelanggannya akan kena getahnya juga. Paling tidak terkena syndrome BBS (bibir susah senyum). Raut wajah yang tidak ramah akan mengesankan bahwa perusahaan tersebut tidak ramah kepada pelanggan. Di mana-mana, kita akan menemui tempat kerja yang tidak seratus persen sesuai dengan keinginan kita. Bahkan, di sebuah buku yang ditulis oleh seorang mafia Italia, disebutkan bahwa di tempat kerja, minimal ada satu orang yang tidak suka dengan keberadaan kita. Hal itu terkadang membuat beberapa preseden yang membuat kita tidak betah untuk bertahan di sana. Anda akan kaget ternyata keluahan itu berantai seperti kisah berikut. Seorang editor surat kabar mengeluh karena honornya tidak lekas cair. Sementara itu, karyawan bagian keuangan mengeluh karena berkas pembayaran yang diurusnya sangat banyak, termasuk honor editor tersebut. Selain itu, mencari tanda tangan persetujuan pembayaran dari atasan juga sulit karena banyak urusan di luar kota. Atasannya juga mengeluh karena urusannya di luar kota tersebut sangat menyita waktunya untuk berkumpul dengan keluarga. Keluhan tersebut seperti tak berujung. Keluhan sangat berbahaya karena mudah menular. Mengeluh itu sifat dasar manusia. Seperti halnya semangat, dia juga dapat menular. Kata-kata positif dan senyum yang tulus adalah salah satu sarana menularkan semangat. Senyuman yang tulus dapat menyenangkan siapapun yang melihatnya. Seringkali saya melihat ada pin yang disematkan di baju karyawan bertuliskan (melayani dengan senyum). Benar senyum bisnis yang notabene berpura-pura saja bisa membuat hati senang, apalagi senyuman dari hati. Jika kita mendapati karyawan yang mengenakan PIN senyum cemberut, kita lihat saja PINnya. Ada perasaan positif, percayalah. Untuk itulah, para programmer instant messanger memberi emoticon “smile”. Bahkan karena kreatifnya manusia, muncullah tanda smile hanya dari dua tanda baca “:)”. Kemudian tanda itu berkembang menjad “^^, ^__^, =), n_n, :D, dsb”. Itu baru senyum, bagaimana dengan kata-kata? Kata-kata yang positif selain dapat menyenangkan hati juga dapat memberikan inspirasi. Nilai-nilai termasuk facebook. facebook sangat efektif menularkan pengaruh positif. Sekali tekan, kita bisa menyebarkan energi positif ke seluruh dunia. Seratus tahun yang lalu, mungkin fenomena ini dianggap magis dan pencetusnya dianggap gila. Kalimat-kalimat positif mungkin biasa bagi kita. Akan tetapi, dampaknya akan luar biasa kepada orang lain. Kita bisa juga berbagi kalimat positif dengan orang-orang terdekat kita dengan sms. Jika mendapatkannya, baca saja, biarkan dia merubah kondisi kita menjadi lebih baik. Setelah itu, forward-lah ke orang lain. Siko Dian Sigit Wiyanto
Beberapa hari yang lalu tersiar kabar bahwa telah marak pelecehan seksual di Busway. Setelah diperiksa, pelaku ternyata gemar menonton film-film porno. Setelah kejadian itu, Transjakarta membuat peraturan yakni pemisahan pintu antara laki-laki dan perempuan. Saya sendiri agak kaget ketika hendak antri busway. Pasalnya ada simbol pemisah antara laki-laki dan perempuan di pintu masuk. Persis seperti gambar di toilet pada umumnya. Meski tidak bertanya, saya menduga hal ini akibat kasus pelecehan seksual seperti cerita di atas. Pelecehan seksual adalah masalah yang tidak boleh dianggap remeh. Seseorang bisa melepaskan barang atau uang kepada penjahat, tapi tidak dengan harga diri. Pelecehan seksual dapat menimbulkan trauma berkepanjangan bagi korban. Kejahatan ini bisa terjadi di mana saja dan kapan saja asal ada kesempatan. Bagi pelaku sendiri, hasrat melakukan tindakan keji ini kebanyakan berasal dari menonton video-video porno. Ironisnya, masyarakat kita justru 'antusias' dengan video-video mesum tersebut. Kasus merebaknya video hubungan intim antar-diduga-artis merupakan bukti bahwa masyarakat kita doyan dengan hal-hal seperti itu. Jika itu salah maka fitnah. Jika itu benar maka ghibah/menyebarkan aib seseorang. Ada beberapa tips yang saya rangkum dari buku "Agar Siapa Saja Mau Melakukan Apa Saja Untuk Anda" yang ditulis oleh David J. Lieberman, Ph.D. untuk mencegah dari pelecehan seksual. Dengan beberapa tambahan, Cara-cara tersebut antara lain. 1. Tahanlah kecenderungan awal untuk membela diri secara fisik. Pura-puralah untuk tertarik dengannya. Hal ini akan membuat sang pelaku menurunkan penjagaannya. Kemudian setelah melihat kesempatan ini, larilah atau serang dia. 2.Jika terjadi di rumah, katakan bahwa seseorang akan segera pulang. Jika kejadian di tempat umum, berteriaklah atau buatlah kegaduhan sekeras-kerasnya. Hal ini akan membuat sang pelaku panik dan berkurang kewaspadaannya. 3. Cara unik dan efektif untuk mencegah terjadinya pelecehan seks adalah dengan muntah, kencing, bersendawa atau hal-hal yang menjijikkan lainnya. Khusus cara ini, ada kisah nyata, seorang pemuda hendak diajak seorang wanita terpandang untuk bersetubuh. Akan tetapi, pemuda ini menolak karena takut kepada Allah subhanahu wata'ala. Sang pemuda tak hilang akal. Ia ijin ke belakang. Ia berak kemudian ia melumuri tubuhnya dengan tinja. Setelah itu ia menghampiri wanita tadi. Tak pelak sang wanita jijik kemudian mengusirnya. Kemudian sang pemuda tersebut dikaruniai kelebihan oleh Allah, tubuhnya harum bak kesturi meski ia tak memakai farfum. Semoga ia mendapat naungan Allah di hari kiamat nanti. 4. Cobalah menenangkan penyerang atau buat agar dia kaget dan tersentak. Cara ini untuk kasus seperti yang terjadi di Busway. Anda harus tegas dan lantang untuk mengatakan, "Tidak, jangan lakukan!". Pelaku akan berpikir bahwa Anda wanita terhormat. Karena sebelum melakukannya, bisa jadi pelaku mengira Anda senang diperlakukan demikian. 5. Bela diri fisik. Inilah salah satu pentingnya bekal ilmu beladiri, terutama bagi wanita yang tinggal di kota-kota rawan kriminal. Ketika pelaku mulai lengah, langsung serang di daerah yang mudah dan menyakitkan. Misalnya hidung, tenggorokan atau pangkal paha. 6. Berpakaianlah yang menutup aurat. Aurat wanita akan menimbulkan syahwat bagi laki-laki. Syahwat inilah yang menimbulkan hasrat untuk melakukan kegiatan-kegiatan sekedar memuaskan nafsu birahi. Berpakaian yang menutup aurat selain sebagai bentuk taqorrub kepada Allah, juga untuk kebaikan kepada wanita itu sendiri. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Ahzab:33) Siko Dian Sigit Wiyanto Blogger dan Pengamat
Sebentar lagi Ibu Sri Mulyani mau meninggalkan Indonesia. Otomatis beliau akan meninggalkan Kementerian Keuangan. Berarti, aku tidak akan lagi melihat beliau wartawan yang nodong doorstop di loby gedung. 3 tahun yang lalu, aku pertama kali melihat Ibu secara langsung di Jakarta Hall Convention Center (JHCC) saat wisuda. Saat itu aku 'harus' duduk di deretan kursi paling depan. Posisiku ini aku leluasa mendengar Ibu memberi wejangan (bukan wedangan) kepada kami, mahasiswa yang barus saja lulus kuliah. Hanya saja aku belum mendapat kesempatan diwisuda Ibu karena hanya mahasiswa dengan IPK terbaiklah yang mendapatkannya. Kata kaskuser, "biar gagal pertamax yang penting bisa page one, Gan". Ibu Ani bentar lagi mau pergi. Sebagian teman sudah ada yang ribut dengan program 1001 bunga Mawar untuk Ibu. Sebagian yang lain sudah ada yang "sowan" ke rumah beliau di Widyacandra. Sebagian pejabat sudah menghadiri acara perpisahan yang formal. Sementara aku juga ingin sekedar "say good bay" kepada beliau secara langsung. Entah bisa atau tidak. Tapi yang penting toh, aku ingin melanjutkan perjuangannya. Bu Ani benar bahwa landasan reformasi birokrasi sudah terinstal. Artinya, meski Bu Ani pergi, reformasi di tubuh Kementerian Keuangan dapat berjalan. Kalau dalam bahasa Jepang-nya sering disebut kaizen (never ending improvement). Seperti sebuah operating system pada komputer, tinggal nambahin update-update saja untuk menambal bug (kebocoran sistem). Sesuai dengan tugas dan fungsi atau dalam istilah seberang lautan, core business, Kementerian Keuangan mengelola Keuangan Negara. Reformasi birokrasi di tubuh Kementerian Keuangan berkembang selaras dengan Reformasi Keuangan Negara. Reformasi birokrasi terdiri dari tiga proses besar yakni penataan organisasi, penyempurnaan proses bisnis, dan peningkatan manajemen sumber daya manusia. Setelah paket undang-undang keuangan negara berupa UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No.15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, proyek merombak tatanan birokrasi di tubuh kementerian keuangan mau tidak mau, segala produk hukum terkait reformasi birokrasi tidak boleh keluar dari peraturan tersebut. Sebagai contoh di bidang perbendaharaan. Tapi tunggu, sebagian mungkin belum begitu tahu apa itu perbendaharaan negara. Boleh dibilang sekarang beban satker sebagai kuasa pengguna anggaran semakin berat. Ini akibat dari pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan administratif (ordonnateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable). Sehingga alih sebagian fungsi perbendaharaan pindah ke pundak satker. Sekarang fungsi perintah pembayaran menjadi milik satker (penerbitan Surat Perintah Membayar). Selain itu sekarang satker harus dapat mempertanggungjawabkan dana yang dikelolanya dengan menggunakan sistem akuntansi instansi (SAI). Otomatis pemisahan fungsi ini akan berakibat pada perubahan tatanan organisasi. Baik itu perubahan organisasi, perencanaan proses bisnis dan peningkatan manajemen SDM tentu tidak akan statis begitu saja. Proses itu akan tetap berjalan dinamis menyesuaikan dinamika pengelolaan keuangan negara dan tuntutan masyarakat. Satu hal yang pasti, polanya akan sama. Sehingga tidak perlu khawatir siapa pun menteri keuangan nantinya, reformasi tetap akan berjalan. Dengan catatan, menkeu tahu pola tersebut dan menjalankan road map yang telah ditetapkan. Visi reformasi sudah ditetapkan alias tujuan telah ditetapkan. Jalan yang akan dilalui juga sudah terarah. Tinggal nanti mau pakai kendaraan apa untuk bisa lebih ngebut. Kementerian Keuangan akan terus memperbaiki diri untuk masa depan negeri. Setelah Meninggalkan gedung ini katakan pada diri Anda "I've done my part" (Sri Mulyani Indrawati) Siko Dian Sigit Wiyanto Pengamat Keuangan Negara dan Reformasi Birokrasi
Di sebuah kampus milik pemerintah di jakarta, ruang kuliahnya bocor. Air hujan tampak menetes dari plafon. Otomatis suasana belajar mengajar tertanggu. Itupun belum lagi fasilitas lain yang masih buruk seperti toilet yang hampir tak terawat dan tiadanya fasilitas jaringan wifi di setiap gedung. Mahasiswa sudah menyampaikan keluhan tersebut kepada manajemen kampus. Pertanyaan yang selama ini mengganjal adalan kenapa seakan manajemen kampus diam saja. Jawaban yang sering muncul adalah, karena belum tersedia dana (cash on hand) dan menunggu proses pengadaan yang memakan waktu lama. di tempat lain, di sebuah rumah sakit milik pemerintah. Komite medis sedang bersitegang dengan manajemen rumah sakit. Katakanlah ini sebagai perang dingin antara struktural dan profesional. Pimpinan rumah sakit pusing tidak kepalang melihat dokter-dokternya sering absen. Masuk cuma 2-3 hari seminggu. Saat absen mereka entah kemana. Dengan keahlian profesionalnya bukan tidak mungkin mereka ngobyek di luar. Kasihan para pasien yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah. Alasan klasik yang sering terlontar dari dokter-dokter itu adalah bahwa mereka tidak mendapatkan haknya. Hak yang mereka maksud adalah penghasilan yang sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab mereka sebagai seorang dokter. Mereka menuntut remunerasi. Oleh karena itu, sejak awal proses reformasi keuangan negara yang dicanangkan Kementerian Keuangan, pengelolaan keuangan instansi pemerintah yang mengasilkan semi barang/jasa (quasi public goods) dipikirkan ke arah format yang tepat agar pengelolaan keuangannya efisien dan efektif. Kemudian dicetuskanlah pengelolaan keuangan badan layanan umum (PK-BLU). Sedangkan pelayanan publik yang murni (pure public goods) seperti halnya pelayanan Polri dan TNI tidak seharusnya dapat menerapkan sistem pengelolaan keuangan ini. Badan Layanan Umum, yang selanjutnya disebut BLU, adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. (Pasal 1 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara Lalu apa perbedaan mendasar pengelolaan keuangan badan layanan umum dengan pengelolaan keuangan satuan kerja (satker biasa). Sebelum lebih jauh menjelaskan tentang BLU. Saya ingin menjelaskan dahulu apa itu satker. Sederhananya, satker adalah suatu unit pemerintah yang dapat merencanakan, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan anggaran sendiri. Dengan kata lain, satker adalah instansi pemerintah yang memiliki dokumen anggaran sendiri. Jika di daerah, satker disebut sebagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Biasanya dinas lah yang menjadi SKPD. Misalnya, sebuah sekolah negeri pemerintah daerah x, maka jatah anggaran sekolah itu terdapat pada dinas pendidikan pemerintah daerah setempat. Berbeda dengan rumah sakit daerah yang dapat mengelola anggarannya sendiri. perbedaan mendasar dari pengelolaan keuangan badan layanan umum, dengan satker biasa adalah fleksibilitas dalam menggunakan kas yang berasal dari kegiatan operasionalnya/pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Selain itu kelebihan lainnya adalah dapat melakukan pengadaan tanpa menggunakan keppres 80/2003 beserta segala perubahannya tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Sehingga hal ini mempercepat pelayanan publik yang dilakukan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2005 pasal 20, tentang pengelolaan keuangan BLU, pengadaan barang/ jasa oleh BLU dilakukan berdasarkan prinsip efisiensi dan ekonomis, sesuai dengan praktek bisnis yang sehat dimana kewenangan atas pengadaan tersebut diselenggarakan berdasarkan jenjang nilai yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan/gubernur/bupati/walikota. Jadi, pengadaan barang/jasa BLU yang sumber dananya berasal dari pendapatan operasional, hibah tidak terikat, hasil kerjasama lainnya dapat dilaksanakan berdasarkan ketentuan pengadaan barang/jasa yang ditetapkan pimpinan BLU, Arti fleksibilitas dalam mengelola kas adalah bolehnya melanggar asas universalitas dalam pengelolaan keuangan negara. Asas ini termaktup pada UU No.17 tahun 2003 tentang keuangan negara. Asas universalitas berarti segala pengeluran dan penerimaan negara wajib melalui kas negara. Ketika satuan kerja badan layanan umum mendapat pendapatan dari PNBP, ia dapat menggunakan langsung untuk membiayai operasional kegiatannya tanpa harus menyetorkan dahulu ke kas negara. Meski demikian, setiap triwulan, satker PK BLU wajib mengajukan Surat Perintah Membayar Pengesahan (SPM Pengesahan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk instansi pemerintah pusat. Sedangkan untuk instansi pemerintah daerah, SPM Pengesahan diajukan kepada kantor bayar daerah masing-masing. Memang pada dasarnya, segala proses pengadaan barang dan jasa pemerintah harus mematuhi Keppres 80 tahun 2003 dan segala perubahannya. Tujuan peraturan ini untuk memberikan keadilan bagi dunia usaha dalam menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan pemerintah. Dengan kata lain, Keppres ini bertujuan untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat diantara pelaku sektor produksi. Jika tidak ada peraturan ini maka dikhawatirkan timbul berbagai kecurangan dalam membelanjakan uang negara. Inilah letak kebocoran APBN selama ini. Meski demikian untuk satker PK BLU ada dispensasi untuk tidak menggunakannya. Hal ini penting. Sebagai contoh, ketika sebuah rumah sakit kekurangan stok obat dan peralatan sedangkan banyak pasien banyak yang kritis, maka sangat ironis mereka tak tertolong akibat pengadaan obat dan peralatan medis harus menunggu proses pengadaan. satu hal yang menarik dan yang paling membuat pegawai calon satker BLU dalam mempersiapkan segala hal agar satkernya 'diangkat' menjadi BLU adalah remunerasi. Setiap BLU dapat memberikan remunerasi kepada pegawainya sesuai dengan kemampuan keuangan yang dimiliki. Sehingga nantinya kasus perang urat syaraf antara komite medik dan manajemen rumah sakit seperti cerita di atas tidak terjadi lagi. Selain itu, keistimewaan BLU yang lain adalah kewenangannya mengangkat pegawai non pegawai negeri. Demikian sekilas uraian mengenai BLU. Semoga dapat menjadi kebaikan bagi kita semua. Reformasi keuangan negara adalah salah satu landasan dari reformasi birokrasi. Keuangan negara adalah sektor vital yang ada pada pemerintah. Tidak ada negara yang tidak mengatur khusus keuangan negaranya. Tidak ada negara yang tidak memiliki menteri keuangan. Siko Dian Sigit Wiyanto Pengamat Keuangan Negara dan Reformasi Birokrasi
wajah itu Pak Anggito terlihat sendu dan suara yang bergetar menggambarkan kepedihannya yang mendalam. Pemandangan ini terlihat saat beliau diwawancarai Metro TV. Tak perlu datang langsung ke lokasi wawancara yang sebenarnya hanya beberapa langkah dari kantorku, untuk merasakan kegalauan beliau. Bagaimana tidak galau. Beliau telah enam bulan digadang-gadang untuk Jadi Wakil Menteri Keuangan. Beliau juga sudah menandatangani Pakta Integritas. Beliau selalu disebut-sebut sebagai calon tunggal Wamenkeu oleh pejabat istana. Beliau bahkan hampir dilantik meski tidak jadi karena pangkat belum cukup. Sekarang, kesempatan itu musnah. Beliau mengambil sikap dengan resign dari jabatan lamanya sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. Pak Anggito, meski banyak yang kagum pada beliau, ada juga yang tidak senang. Nabi pun ada yang tidak menyenangi, apalagi beliau yang orang biasa. No body's perfect Guys. Overall, beliau sudah berjasa banyak kepada Kementerian Keuangan, kepada perekonomian Indonesia, kepada rakyat Indonesia. Beliau bukan orang yang gila jabatan. Siapa yang tidak sakit hati ketika dijanjikan sesuatu kemudian diingkari. Konon perpres pengangkatannya sudah ada dan bahkan belum dicabut. Penulis juga pernah mengalami hal serupa. Diberi janji di atas kertas tapi diingkari pembuatnya sendiri. Janji itu bukan jabatan tentunya, melainkan kesempatan. Kesempatan itu hilang karena keras kepala beberapa pejabat dalam memahami peraturan. Ketika dimintai pertimbangan, tidak ada yang mau bertanggung jawab. Lagipula, beberapa rekan penulis ada yang telah mendapatkannya. Jika ada yang bisa, kenapa saya dan beberapa rekan senasib tidak? Hati kecilku berkata, Pak Anggito orangnya legowo. Cuma karena janjinya diingkari, beliau kecewa. Anehnya pula, kata seorang menteri, beliau tidak jadi terpilih karena masalah gender. Karena yang diangkat Pak Agus Martowardojo yang berjenis kelamin laki-laki, beliau tidak jadi diangkat. Jadi, biasanya seseorang tidak terpilih jadi pimpinan karena perempuan, Pak Anggito tidak terpilih karena laki-laki. Padahal beliau sudah lama membangun perekonomian Indonesia sejak 1999, pasca krisis moneter yang berkembang menjadi krisis multidimensi. Menurut pandangan penulis, Pak Anggito layak menjadi wamenkeu karena beliau sudah berpengalaman dalam urusan fiskal. Beliau akan menjadi tandem maut bersama Pak Agus Martowardojo yang telah memiliki pengalaman di bidang moneter/perbankan. Sekarang ini dunia tengah disibukkan dengan berbagai krisis, mulai dari krisis keuangan global dari amerika sampai krisis keuangan di Yunani. Untuk menghadapi turbelence ekonomi global, butuh konsolidasi kebijakan fiskal dan moneter yang matang. Penulis menunggu Pak Anggito kembali, bukan untuk menjadi wamenkeu, tapi untuk menteri di bidang ekonomi. Karena beliau pantas mendapatkannya. Namun di benak penulis, alangkah baiknya jika beliau mengurungkan niatnya untuk pergi. Kemkeu tidak mau lagi kehilangan orang hebat. Beliau akan kembali mengajar di UGM, kampus yang telah membesarkannya. Beruntunglah mahasiswa di sana. Pak Anggito tidak akan mengajarkan teory tanpa bukti. Betapa ruginya jika ada mahasiswa membolos ketika beliau sedang mengajar. But, after all, life is about choice, we can not make all people happy, but we can do the best. Siko Dian Sigit Wiyanto Pengamat Keuangan Negara dan Reformasi Birokrasi
METAMORPHOSA dalam Catatan: Bekal Menjadi Orang Tua yang Dahsyat Ratusan orang berbondong-bondong memasuki Auditorium Universitas Sebelas Maret surakarta. Rupanya sedang ada acara seru di sana, Seminar Nasional METAMORPHOSA: From Adolescence to be Great Parents. Bagaimana tidak seru, pembicaranyamerupakan orang-orang penting dan terkenal. Pembicara pertama adalah Rektor UNS Prof. dr. Moch Syamsulhadi, SpKJ (K), Penulis Agar Bidadari Cemburu Padamu Salim A. Fillah, dan Penulis serta Pemain Film Ketika Cinta Bertasbih Habiburrahman El Shirazy. Peserta tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga hiburan segar dari pembicara. Hal ini karena pembicara dalam memberikan materi banyak memberikan bumbu-bumbu dalam bentuk cerita. Menurut teori perkembangan kepribadian yang paling komprehensif dan paling kontroversial milik Erik Erikson, adolescence (masa remaja) adalah masa diantara 14-20 tahun. Pada saat usia inilah manusia mulai mempersiapkan dirinya menjadi dewasa. Salah satu konsekuensi menjadi dewasa adalah menikah dan memiliki anak. Hal paling krusial pada tumbuh kembang anak adalah pengasuhan. Seminar ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan cara menjadi orang tua yang bijaksana. Penulis terkesan pada Salim A. Fillah. Karena beliau mengemukakan hal pokok dalam pengasuhan yakni komunikasi. Beliau adalah seorang sarjana psikologi sedangkan isterinya adalah sarjana komunikasi. Beliau menyatukan kedua ilmu tersebut dalam kampus rumah tangga. Menurut penulis, penggabungan kedua ilmu ini menghasilkan daya guna yang dahsyat. Psikologi komunikasi adalah cara mempengaruhi kondisi psikologi seseorang melalui teknik-teknik komunikasi. Dewasa ini banyak ahli melakukan penelitian untuk menemukan senjata psikologi. Komunikasi psikologi saat berkembang sampai pada level mempengaruhi alam bawah sadar diantaranya adalah Neuro Linguistic Programming atau biasa disingkat menjadi NLP. Penulis sedang tertarik mempelajarinya. Banyak eksekutif sukses dengan teknik psikologi-komunikasi. Diantara buku-buku yang membahas bidang ini adalah Stephen R. Covey: How to make friends and Influence People dan David J. Lieberman, Ph.D: Agar Siapa Saja Mau Melakukan Apa Saja untuk Anda, Agar Siapa Saja Mau Berubah Untuk Anda. Bahasa adalah salah satu unsur penting yang terdapat dalam komunikasi. Dalam penerapan berkomunikasi dengan anak-anak, bahasa yang digunakan haruslah tepat. Alam pikiran bawah sadar pada masa anak-anak masih terbuka lebar pada saat ia sadar (kondisi trance). Jadi sangat disayangkan ada orangtua membentak anaknya yang mendapat rapor merah dengan kalimat "Dasar, Kamu bodoh!". Maka 'cap' anak bodoh itu akan ter-instal dalam benak anak tersebut. Padahal kualitas otaknya (hardware) bagus. Tapi karena virus dari orangtuanya itu menghambat perkembangan dirinya. Sampai dewasa ia akan berpikiran bahwa dirinya bodoh. Betapa sungguh berbahaya. Kasus lain, ketika ada orang tua menemui anaknya yang sedang terjatuh, dia berkata "Anak Papa kan jagoan, ga pa-pa kan". Salim A. Fillah mengkritisi cara pengasuhan anak model Asal Tidak Menangis (ATM). Padahal menurutnya, menangis itu perlu. "Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Robb kami; sesungguhnya janji Robb kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'." (Qs. Al-Isroo': 107-109) Didalam hadits lain yang diriwayatkan oleh imam An-Nasa'i dan At-Tirmidzi yang beliau menshohihkanya Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam juga bersabda: لايلج الناررجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع ولا يجتمع على عبد غبار في سبيل الله ودخان "Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Alloh, sehingga air susu kembali ke tetek, dan tidaklah terhimpun pada diri seseorang debu karena jihad fii sabilillah dengan asap neraka jahannam" (HR. Tirmidzi dan An-Nasa'i) Kalimat penghiburan seperti di atas bisa menjadi bumerang bagi orangtuanya nanti ketika memasuki usia senja. Ketika orangtua telah mengidap banyak penyakit seperti kolesterol tinggi, asam urat tinggi, dan tekanan darah tinggi misalnya. Sang anak akan begitu mudahnya akan mengatakan "ga pa-pa Ma, Pa, hanya sakit gitu koq, jangan mengeluh donk....". (Gubrak!). Seminar kali ini tentu saja tidak bisa memberikan semua materi terkait bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik. Kita perlu belajar lagi di tempat lain, dari sumber lain, dari peristiwa lain. Segala hal yang terjadi di kehidupan kita dapat menjadi bahan pelajaran bagi kita. Never ending learning. Maka ketika keluar dari ruang seminar, semangat belajar itu buarlah tumbuh. Bahkan ketika saat kita menjadi orangtua, maka itulah kesempatan terbesar untuk learning by doing. Learning itu seperti kau naik sepeda (Trainer Motivator No.1 dunia, Anthony Robbins). Siko Dian Sigit Wiyanto Peserta Seminar Metamorphosa, Auditorium UNS, 23 Mei 2010
Selama manusia masih hidup tetap saja memiliki masalah. Masalah yang tak tertangani dengan baik membuat stres. Dari asal namanya, stres berarti tekanan. Tekanan psikis menyebabkan orang memiliki perasaan tidak nyaman. Akhirnya mau melakukan apa pun tidak bisa optimal. Stres seperti inilah yang tidak dikelola dengan baik. Padahal sebagai mahluk sosial yang dinamis, manusia memerlukan stres. Jika tidak, maka kemajuan demi kemajuan jangan harap akan tercapai. Bagaimana bisa? Lha iya, coba, jika manusia dulu hanya puas kirim pesan lewat telegram, maka jangan harap bisa membaca tulisan saya di facebook hehe. Lalu bagaimana cara mengelolanya? Manusia memiliki banyak cara untuk mengelola stres. Tentu saja, cara itu ada yang benar dan ada yang salah. Cara yang salah dalam mengelola stres seperti pergi nge-dugem (dunia gemerlap) di club malam atau diskotik. Tempat maksiat itu, orang bisa mabuk dan atau ditemani wanita seksi dan cantik. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah meredakan stres. Penyebab stres mereka bermacam-macam. Mulai dari tekanan di tempat kerja sampai stres karena bingung mau ngapain? Beberapa orang juga menggunakan obat-obatan psikotropika untuk sekedar fly. Terbang meninggalkan persoalan. Bahkan diantaranya kebablasan ke alam baka (na'uzubillah). Stres itu penting dalam kadar tertentu. Stres tidak harus muncul dengan wajah sangar seperti algojo. Stres bisa datang dalam bentuk bidadari, eh maksudnya motivasi. Ketika seorang calon mahasiswa baru tidak stres sama sekali, ia tak mau belajar. Seperti ini yang membuat repot. Ia menganggap saingannya ga ada apa-apanya. Ia menganggap soalnya gampang. Padahal di belahan Indonesia sana. Ratusan bahkan ribuan calon mahasiswa dengan semangat '45 sibuk mempersiapkan diri. Ada yang ikut bimbingan tes, ada yang ikut try out, sampai sibuk mengerjakan soal-soal tahun yang lalu. Begitu pula dengan peserta Piala Dunia 2010. Menjelang kick off, latihan mereka tentu saja ditingkatkan. Jika mereka tidak mau pulang awal tentunya. Berpeluh keringat saat latihan lebih baik daripada bersimbah darah saat perang bukan? Dalam mengelola stres ada satu cara yang paling umum dan sangat efektif, yakni melakukan kegiatan yang kita sukai. Contohnya adalah menulis. Kenapa? menulis adalah sarana mengekspresikan perasaan kita. Menulis adalah sarana berbagi ilmu, ide, dan pemikiran. Ada banyak contoh penulis buku-buku terkenal menerbitkan bukunya yang niat awal mereka adalah pelampiasan emosi yang tidak kesampaian. Menulis tidak harus menurut pakem tertentu seperti harus bikin kerangka karangan dahulu dan sebagainya. Buang jauh-jauh aturan itu. Bebaskan pikiran, bebaskan ide, bebaskan rasa. Good bye stres yang tidak menguntungkan. Siko Dian Sigit Wiyanto
Sering kita mendengar banyak orang yang sudah minder ketika harus mempelajari sesuatu. Padahal orang tersebut ingin sekali mengusainya. Tak sedikit keminderan itu membuatnya mundur. Misalnya, seseorang pingin sekali bisa menulis. Tapi, ia merasa tidak memiliki bakat menulis. Menulis baginya lebih susah daripada bicara. Padahal kalau ia mau, omongannya itu ditrankrip saja. Begitu sudah menjadi tulisan. Bagaimana seseorang bisa mengatakan tidak bisa menulis. Padahal setiap hari entah berapa pulus SMS yang ia kirim. Berapa baris chat yang ia ketik. Bahkan ia juga tidak sadar berapa buah email yang harus ia tulis. Kemudian ada yang menyangkal, kan harus ada ide. Sementara tidak semua orang itu mampu membangkitkan ide untuk menulis. Sebenarnya jika ia tahu, ide itu ada di mana-mana. Baca koran saja satu halaman. Maka akan banyak topik permasalahan yang bisa dibahas. Kita hanya perlu tahu apa masalahnya. Kemudian yang perlu kita tulis adalah analisis, opini, atau kalau bisa solusi. Agar tulisan kita bermanfaat maka perlu adanya proses mengikat makna. Makna dalam sebuah tulisan berarti nilai tulisan itu sendiri. Oleh karena itu agar tulisan bernilai, maka sebuah tulisan harus memiliki tujuan yang jelas, agar maknanya juga jelas. Karena keahlian seseorang itu timbul dari banyaknya pengalaman. Bukan dari banyaknya pengetahuan yang ia miliki. Seorang ahli pun awalnya benar-benar tidak bisa. Setelah ia belajar, ia menerapkan ilmunya. Kemudian dari pengalamannya tersebut ia berproses untuk menjadi sang ahli. Jika tidak dipaksa mulai berproses kapan bisanya? Siapa sangka kalau Thomas Alfa Edison termasuk orang bodoh di sekolahnya. Namun karena ia memiliki seorang Ibu yang penyayang dan sabar. Ia belajar dari Ibunya membaca. Sampai akhirnya ia menjadi ilmuan yang menemukan listrik dan bola lampu. Benar, awalnya harus dipaksa. Dengan catatan seseorang harus memiliki dulu kemauan. Jika tidak ada kemauan, maka usaha dapat menjadi sia-sia. Ibarat membangun istana pasir di pinggir pantai. Runtuh dan hanyut diterpa angin dan ombak. Kemauan yang bulat ini dapat membuat sepotong besi menjadi sebilah pedang.
Sore itu di sebuah kampus yang berada di pinggiran Jakarta. Dua orang pemuda sedang bertarung. Ini bukan acara perkelahian. Jika dalam pencak silat, kegiatan ini disebut sabung. Bedanya, mereka tidak mengenakan sabuk tingkat sebagai seperti kelompok beladiri lain. Seragam mereka hanya kaus hitam dengan gambar lambang tangan di belakang punggung. Seorang pelatih tampak sedang mengawasi jalannya pertarungan. Pertarungan akan berhenti jika salah satu pihak menyatakan menyerah. Begitulah cara pelatih mengajar beladiri tersebut. Tidak ada ring dan tidak boleh lari dari lawan. Genre beladiri ini adalah kung Fu. Namun bedanya, tidak ada gerakan peribadatan seperti menundukkan badan di sini. Oleh karena itu pelatih memberinya nama Kung Fu muslim. Sebagian besar motivasi seseorang untuk belajar beladiri adalah untuk jaga diri. Kota besar seperti Jakarta memang rawan kejahatan. Beberapa bulan yang lalu sekelompok preman menyerang rekan di dalam metromini. Rekan kerja tersebut bersama temannya yang jago beladiri. Akhirnya mereka selamat. Setelah kejadian itu, ia memantapkan diri untuk belajar beladiri. Jika tidak salah, ia belajar Aikido. Jenis beladiri yang satu ini bukan termasuk high speed combat. Intinya adalah mengembalikan serangan lawan dengan kekuatan lawan itu sendiri. Gerakannya cukup efisien, bahkan kalau boleh penulis bilang cukup gemulai. Jika ingin melihat aksi master aikido, tonton saja film-film Steaphen Seagal. Beladiri adalah cara bertahan hidup. Artinya, ilmu beladiri sejatinya adalah ilmu bagaimana orang dapat mempertahankan dirinya dari serangan orang lain, Capoeira misalnya. Konon, seni beladiri dari Brazil ini diciptakan oleh para budak di Brazil untuk melawan kekejaman majikannya. Gerakan kaki lebih mendominasi seperti halnya Taekwondo dari Korea Selatan. Sebagian kelompok memasukkan ritual keagamaan dalam beladiri. Sebagai contoh, sebelum latihan ada tradisi membungkuk pada foto seseorang. Bisa jadi itu guru besarnya yang telah meninggal atau mungkin pendiri perguruan. Namun yang jelas, ketika kita berniat akan atau sedang belajar beladiri, jangan sampai ada nilai-nilai yang merusak akidah kita. Penulis merasa aneh ketika mengetahui perguruan-perguruan tertentu mengadakan ritual khusus untuk kenaikan tingkat. Syaratnya juga aneh-aneh. Diantara syarat tersebut adalah membawa ayam jago. Kemudian ayam tersebut disembelih. Sedangkan darahnya dituliskan di punggung orang yang sedang menjalani kenaikan tingkat. Diperguruan lain, ayam tersebut harus dimakan seluruhnya. Katanya sudah 'diisi', sehingga orang yang memakannya menjadi sakti. Jelas, praktik seperti ini tidak pernah diajarkan dalam Islam. Perbuatan tersebut adalah dosa besar karena musrik. Ketika seseorang ingin belajar beladiri. Sebaiknya ia mengkondisikan dengan kelebihan dan kekurangan dirinya. Jika ia suka pertarungan jarak pendek, pencak silat dapat menjadi pilihan yang terbaik. Jika ia merasa memiliki kemampuan siku tangan dan kaki, ia bisa memilih Muathai. Perlu disadari bahwa ketika seseorang belajar beladiri untuk murni jaga diri, maka lupakan belajar jurus-jurus indah seperti yang biasa kita lihat di olimpiade. Kalau kita mulai menyerang dengan kuda-kuda jurus tertentu, bisa-bisa kita diketawain orang. Apapun jenis beladiri, gerakan yang paling efektif dan efisienlah yang menang. Seseorang akan menjadi kuat, ketika ia melindungi orang yang ia cintai. Siko Dian Sigit Wiyanto Pengamat Beladiri
Siang itu, saat buka facebook, ada tautan seorang teman mengenai Mavi Marvara yang diserang Tentara Israel. Setelah saya cari tahu lebih jauh, ternyata kapal tersebut bermuatan bantuan kemanusian dan para sukarelawan untuk membantu saudara-saudara kaum muslimin di Palestina. Sudah tidak terbayang lagi penderitaan mereka. Alih-alih bertani, mau dapat ransum dari luar saja harus melewati blokade tentara Israel. Armada ini jelas non combatan alias tak bersenjata karena bukan bertujuan untuk perang. Anehnya-sebenarnya tidak juga karena sifat Yahudi begitu-mereka ditembaki oleh tentara Israel. Sampai korban yang jatuh adalah 19 orang, satu diantaranya adalah warga negara Indonesia, Santi Soekanto, seorang ibu rumah tangga dan juga wartawan. Lebih tidak lucu lagi adalah alasan tentara Israel menyerbu kapal tersebut. Mereka berkeras bahwa penyerangan itu adalah upaya pembelaan diri dari serangan relawan bersenjata kayu dan pisau. Kita semua tahu bahwa Yahudi adalah mengubah dan memutarbalikkan kebenaran. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus[69]. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Q.S. Al Baqoroh:87) Pembelaan tentara Israel bohong besar. Penjelasan sebenarnya berasal dari penuturan dua relawan yakni Dr Hazim Farusk Mansur dan rekannya Muhammad Al Baltaji. Sekitar pukul empat dini hari waktu setempat, para relawan sedang melakukan sholat Shubuh berjamaah. Tiba-tiba ada helikopter tempur datang disertai 4 kapal perang dan 16 kapan kecil. Kapal kecil ini membawa 8 orang di setiap kapal. Helikopter tersebut langsung menembaki para relawan. Relawan yang terkena tembakan ada yang langsung meninggal-semoga Allah menempatkan mereka ke dalam golongan syahidin-selebihnya luka-luka. Pertanyaannya adalah, siapakah yang seharusnya membela diri, pihak bersenjata lengkap atau warga sipil dari 50 negara yang langsung diserbu begitu saja. Jelaslah, kebiadaban tentara Israel yang berjiwa pengecut itu. Sudah terkenal bahwa mereka juga tega menembakkan senapan serbu kepada anak-anak. Mereka tega membuldoser rumah-rumah warga Palestina beserta penghuninya. Meski demikian, janji Allah, mereka akan kalah. "Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. " (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu'lu' wa al-Marjan III/308) Siko Dian Sigit Wiyanto
Malam itu saya baru pulang, sepintas saya melihat televisi sebelum menuju kamar. Ternyata ada berita unjuk rasa. Jumlahnya tak hanya ratusan, bahkan ribuan. Unjuk rasa tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di kota-kota besar lain di dunia. Tujuan unjuk rasa tersebut adalah menentang penembakan relawan yang berada di Kapal Mavi Marvara. Kapal itu mengusung misi kemanusiaan. Kapal yang mengangkut bantuan dan para relawan ini langsung ditembaki ketika mereka sholat shubuh. Hal ini berdasarkan penuturan salah seorang saksi mata yang termasuk salah satu relawan. Jadi tidak benar klaim tentara Israel yang menyatakan bahwa penembakan itu adalah upaya pembelaan diri. Lucunya, kenapa pembelaan diri menggunakan senapan mesin jika penyerangnya menggunakan kayu dan pisau. Sudah keliatan bahwa tentara Israel ini menang teknologi saja. Mereka tidak memiliki jiwa satria dan pemberani yang harus dimiliki seorang prajurit. Kembali ke unjuk rasa. Aksi turun ke jalan dewasa ini sering dilakukan. Tak terkecuali untuk solidaritas rakyat Palestina. Dari dulu hingga sekarang, aksi ini sudah berkali-kali digelar di berbagai kota di dunia. Namun, apakah aksi itu memberikan pengaruh baik kepada rakyat Palestina? Barangkali, hal itu perlu ditanyakan kepada rakyat Palestina. Jika kita melihat berdasarkan cost-benefit analysis (perhitungan manfaat-mudharat) maka akan ada beberapa kesimpulan. Pertama, Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wassalam dan Para Sahabat radiyallahu'anha tidak pernah mensyariatkan unjuk rasa. Unjuk rasa adalah sikap protes yang dilakukan di tengah jalan atau tempat keramaian dengan berteriak keras. Jadi tidak seperti pengumandangan takbir ketika menuju tempat sholat ied pada hari raya. Contoh perbuatan unjuk rasa berasal dari orang kafir. Oleh karena itu Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad shollallahu'alai wassalam bersabda: “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud). Dalam memahami sunnah, ada kaidah, "jikalau perbuatan itu baik maka Nabi Muhammad shollallahu'alai wassalam beserta para sahabat telah melakukannya lebih dahulu". Inilah mengapa sampai sekarang, kita umat Islam belum menggapai kejayaan seperti jaman para salafusshalih. Karena cara yang ditempuh telah menyelisihi syariat. Kedua. Unjuk rasa itu cost (biaya) nya besar sekakali. Tidak hanya sisi material, waktu, tapi juga sosial. Berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk menggelar sebuah aksi? Bukankah lebih baik diberikan kepada saudara kita di Palestina. Berapa waktu yang telah dihabiskan untuk menggelar aksi? Bukankah lebih baik digunakan untuk mengerjakan hal lain yang manfaatnya akan lebih dirasakan oleh korban kebiadaban yahudi. Misalnya bekerja, mengumpulkan bantuan dan menyalurkannya kepada mereka. Jika tidak mampu berdoa saja sudah cukup. "Sesungguhnya do'a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa'a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo'akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do'anya. Tatkala dia mendo'akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi." (Shohih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du'aa', hal. 88] Unjuk rasa menimbulkan kemacetan. Jumlah biaya yang timbul dari kemacetan sangat besar. Bahan bakar akan terbuang percuma. Ada kesepakatan bisnis yang terhambat karena keterlambatan. Bayangkan pula, ada ambulan yang membawa orang sakit, kemudian orang tersebut meninggal karena jalanan macet oleh adanya unjuk rasa. Siapa yang mau bertanggung jawab? Di beberapa tempat malah aksi tersebut menimbulkan bentrokan dengan aparat keamanan. Apalagi unjuk rasa disisipi sponsor partai politik tertentu, hal ini menjadi kampanye terselubung. Ketiga. Dalam sudut pandang komunikasi. Penyampaian aspirasi solidaritas Palestikna melalui unjuk rasa tidak efektif. Seperti yang telah saya sebutkan di atas. Tidak manfaatnya bagi rakyat Palestina. Justru bisa jadi mereka akan berkata, "buat apa saudara kita teriak-teriak seperti itu?". Saya yakin mereka lebih suka dengan pemberangkatan Kapal Mavy Marmara. Meski terhambat, setidaknya hal itu adalah contoh nyata. Lagipula aspirasi lebih efektif jika dilakukan melalui media. Kita bisa membuat artikel atau opini yang dapat menggerakkan hati manusia. Lihatlah saudaraku, masih banyak orang yang menganggap para relawan itu teroris. Sekali-kali silakan lihat komentar di web portal berita seperti detik.com. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin –rahimahullah 'Beliau ditanya: “Apakah Demonstrasi bolah dianggap sarana dakwah yang disyari’atkan?” Beliau menjawab, “Alhamdu lillahi Rabbil alamin wa shollallahu ala Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma ba’du: Sesungguhnya demonstrasi merupakan perkara baru, tidaklah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaihi wasallam-, dan para sahabatnya –radhiyallahu anhum-. Kemudian di dalamnya terdapat kekacauan dan huru-hara yang menjadikannya perkara terlarang, dimana didalamnya terjadi pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu, dan lainnya. Juga terjadi padanya ikhtilath (campur-baur) antara lelaki dan wanita, orang tua dan anak muda, dan sejenisnya diantara kerosakan dan kemungkaran. Adapun masalah tekanan atas pemerintah. Jika pemerintahnya muslim, maka cukuplah bagi mereka sebagai penasihat adalah Kitabullah Ta’ala, dan Sunnah Rasulullah Shollallahu'alaihiwassalam. Ini adalah sesuatu terbaik disandarkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka tak akan memerhatikan para peserta demonstrasi. Pemerintah tersebut akan “bermanis muka” di depan mereka, sementara itu hanyalah merupakan kejelekan yang tersembunyi di batin mereka. Kerananya, kami memandang bahwa demonstrasi merupakan perkara mungkar !!Adapun alasan mereka: “Demo ini aman-aman saja”. Memang terkadang aman-aman saja di awalnya atau pertama kalinya, lalu kemudian berubah menjadikan kerusakan. Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mengikuti jalannya Salaf. Kerana Allah Subhanahu wata'ala telah memuji para sahabat Muhajirin dan Ansar, serta juga orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan”. [Lihat Al-Jawab Al-Abhar(hal.75) karya Fu’ad Siroj] Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud mewakili tempat penulis bekerja Siko Dian Sigit Wiyanto Staf Bagian Manajemen Opini Publik Biro Humas Kementerian Keuangan
Manggala Wanabakti, Gedung di Sebelah Gedung "miring" DPR RI itu ramai sekali. Terang saja tamu-tamunya para punggawa negeri ini. Mulai dari Anggota Dewan, Menteri, Pejabat Tinggi, hingga para hulubalang dan sanak famili serta para rekan 'tumplek blek' di pesta pernikahannya Mas Alvin. Saat salaman langsung disodorin 'password, "HALF A Deen", langsung aku menimpali dengan "Makes You Ready". Dalam hati saya berkata, semoga aku benar-benar siap untuk menyempurnakan agama ini. Dia dan calon isterinya sebulan yang lalu mengikuti Seminar Half A Deen: Kesehatan Reproduksi Seputar Pernikahan yang diselenggarakan FSI FKUI. Acara diselenggarakan di Kampus FKUI Salemba pada 23 Mei 2010. Follow up yang bagus dari sebuah seminar. Bicara tentang nikah, tentu kita tidak jauh-jauh bicara mengenai jodoh. Kalau tidak ada jodohnya, lalu pesta pernikahan untuk apa? Saya tertarik pada sebuah buku yang direkomendasikan Mas Hendri Harjanto, judulnya, Jodoh Cinta Update karya Ary Wulandari. Buku tersebut banyak menceritakan tentang cara seseorang menemukan jodohnya. Hampir semua, atau bahkan semua cerita 'aneh', tidak biasa, ajaib, dan yang jelas luar biasa. Setelah membaca buku itu, saya mengambil kesimpulan bahwa jodoh itu banyak jalannya. Mungkin saja ia orang yang sering kita temui. Mungkin saja ia orang yang sama sekali belum kita kenal. Mungkin sekali jodoh itu ketemu saat pertemuan yang tak dinyana. Itulah mengapa jodoh itu adalah misteri. Semua tercatat dalam lauhul mahfuz. Namun satu hal pesan penting dalam buku tersebut yakni sholat Istikhoroh. Jodoh-cinta, selalu menjadi perbincangan yang hangat di setiap jaman. Bahkan tak bisa selesai dalam semalam. Jodoh itu pilihan hati dan indikatornya macam-macam. Ada teman saya berkata, kalau jodoh, itu bisa membuat hati bergetar. Dewasa ini, orang tua sudah menganggap dewasa anaknya. Sehingga anaknya diberi kebebasan memilih jodohnya. Tidak seperti jaman dahulu yang sering dijodoh-jodohkan. Tapi ini relatif. Mungkin di tempat lain tidak begitu. Orang tua menganggap, anak muda jaman sekarang lebih pinter. Tapi kembali kepada peran orang tua. Asal ada restu, insyaAllah mudah. Tapi sebagian menganggap peran orang tua tidak begitu penting, terlebih orang tua yang dianggap kurang tahu agama. Maka ketika ada yang mau taaruf, diadepin dulu sama mentornya. Nah, saya menganggap ini keliru. Karena orang tualah yang menjadi wali ketika anaknya nikah, bukan mentornya. Jodoh-cinta, jika sedang dikenalin/ta'aruf maka ada dua kemungkinan, bisa ya atau tidak. Jika jodoh alhamdulillah dan jika tidak berarti menambah teman baru. Tidak perlu dirisaukan lagi. Jika sudah istkhoroh, insyaAllah akan mudah menerima segala ketetapan yang ada. Allah tahu yang terbaik bagi kita. Tujuan cinta adalah menggapai kebahagiaan. Untuk apa ada kebencian di tengah taman kasih sayang. Itulah kadang saya sedih ketika ada ikhwan yang kecewa ditolak akhwat, atau ditolak keluarga akhwat tersebut. Bukankah masih ada akhwat-akhwat yang kain. Meminjam slogan rekan saya, Muhammad Reza Pahlevi, selalu ada kesempatan kedua. Siko Dian Sigit Wiyanto Blogger sekaligus pengamat
Belum lama Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meninggalkan Indonesia, DPR sudah membuat gaduh di Senayan itu. Dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010, Fraksi Golkar mengusulkan dana aspirasi. Dana aspirasi adalah dana yang berasal dari APBN untuk membina daerah pemilihan (konstituen). Mekanisme penyalurannya adalah dengan dibagikan kepada setiap anggota DPR. Sedangkan usulan besar dana yang diajukan berjulmlah 8,4 triliun rupiah atau 15 miliar rupiah setiap anggota dewan. Alasan utama usulan dana aspirasi ini diajukan adalah komitmen anggota dewan kepada masyarakat di daerah pemilihan yang diwakilinya. Jika kita memandang dari sudut pandang pengelolaan keuangan negara yang baik, maka usulan dana aspirasi ini sangat perlu dipertanyakan. Pertama, dana aspirasi sedikitnya melanggara dua asas pengelolaan keuangan negara berdasarkan best practice dan tercantum dalam undang-undang Keuangan negara. Asas tersebut adalah profesionalitas dan proporsionalitas. Ketidakprofesionalan tercermin pada tumpang tindihnya fungsi legislatif yang dimiliki DPR dengan fungsi eksektutif yang dimiliki pemerintah. Jika dana aspirasi ini disetujui, maka baik pemerintah dan DPR akan bersama-sama melaksanakan anggaran. Padahal DPR sendiri memiliki tiga fungsi yakni fungsi anggaran, fungsi legislasi, dan fungsi pengawasan. Jika pelaksanaan program pemerintah dilakukan sendiri oleh DPR, maka akan timbul konflik kepentingan. Kira-kira apakah akan berhasil suatu pengawasan apabila ia sendiri yang melaksanakannya. Semua dapat dinilai baik-baik saja. Asas kedua yang dilanggar adalah asas proporsionalitas. Jika pemerintah dan DPR sepakat untuk menggelontorkan dana aspirasi itu, maka defisit APBN akan semakin lebar. Lagipula akan timbul trade off dengan program-program prioritas pemerintah yang telah ada di dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Bukan tidak mungkin dana aspirasi itu akan menggeser program-program pro rakyat seperti pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Terlebih lagi program-program tersebut merupakan bagian dari Rencana Pemerintah Jangka Menengah (RPJMN). Belum tentu pula aspirasi daerah konstituen sesuai dengan prioritas pembangunan nasional. Saat ini belanja transfer ke daerah telah mencapai sepertiga dari total belanja dalam APBN. Belanja transfer ke daerah adalah dana yang disalurkan oleh pemerintah pusat ke pemerintah daerah (pemda) sebagai konsekuensi pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian, pemda dapar mengoptimalkan dana tersebut untuk membangun daerahnya. Pemerintah membagi dana ini berdasarkan kapasitas fiskal tiap-tiap daerah. Dengan demikian, dana tersebut merata seadil mungkin. Hal ini berbeda dengan dana aspirasi yang perhitungannya menggunakan banyaknya wakil rakyat yang berasal dari daerah pilihan (dapil) masing-masing. Maka tidak adil jika suatu daerah sudah kaya dan padat penduduknya mendapatkan dana aspirasi yang jumlahnya lebih besar dari daerah jarang penduduk lagi terbelakang. DPR juga memberikan alasan bahwa dana aspirasi juga ada di negara lain seperi Filipina dan Amerika Serikat dengan sebutan lain yakni pork barrel. Padahal kebijakan tersebut sudah usang. Di Amerika sendiri, Presiden Obama sudah memberikan pernyataan bahwa kebijakan tersebut dalam waktu dekat. Justru Anggota DPR melontarkan wacana tersebut. Dilihat namanya pun arti konotasinya juga tidak baik. Pork dalam bahasa Indonesia artinya daging babi. Kta tahu sendiri daging babi itu seperti apa? Sehingga baru di sini pun sudah jelas. Dana aspirasi hanya akan membuat rakyat sakit hati. Dana aspirasi adalah model politik uang gaya baru secara legal. Apa kata dunia? Siko Dian Sigit Wiyanto Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2007 Staf Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Keuangan blog: belajarkeuangan.wordpress.com
Dahulu, di sebuah daerah di Singapura, tinggallah seorang anak yang mulai memasuki bangku sekolah. Orang tuanya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, prestasi belajarnya selalu merah. Ia memang bukan orang yang suka membaca. Pikirannya hanya berkisar main komputer dan nonton TV. Maka tidak heran banyak nilai F bertaburan di raportnya. Akhirnya ia dipindah ke sekolah menengah yang baru dan tak banyak orang tahu. Dari 160 siswa, ia berada di 10 peringkat terbawah. Suatu ketika, ia mengikuti sebuah pelatihan bagaimana belajar yang baik. Setelah meninggakan tempat pelatihan, ia membawa pikiran positif dengan bekal belajar cerdas dari pelatihan itu. Ketika ia menjawab pertanyaan gurunya, jawaban yang ia berikan lengkap. Semua orang penasaran. Gurunya bertanya, apa yang telah terjadi dengan murid underdog itu. Ia menjawab bahwa ia akan masuk ke Victoria Junior College lalu melanjutkan ke National University. Guru dan teman-temannya menganggapnya gila. Akhirnya, ia benar-benar berhasil mewujudkan impiannya itu, masuk ke Victoria Junior College dan masuk ke National University of Singapore (NUS), universitas nomor satu se-Singapura. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi 1% mahasiswa terbaik sehingga masuk ke NUS Talent Development Programme. Ia adalah Adam Khoo, trainer Super Teen sukses di Singapura. Sang jenius yang dulu sering dijuluki idiot. Ia berhasil mengubah kaleng menjadi baja. Hasil Ujian Nasional SMP tahun ini mencengangkan. Fitriayan Dwi Rahayu, siswi SMP Negeri 1 Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah, Ni Made Yuli Lestari dari SMP Negeri 1 Gianyar, Bali, serta Ni Kadek Indra Puspayanti, siswi SMP Negeri Abiansemal, Badung, Bali, dengan rata-rata nilai 9,95. Mereka semua bukan dari kota besar. Mereka semua perempuan. Mereka semua bukan dari keluarga kaya. Tapi prestasinya sungguh nyata. Bagaimana prestasi dengan siswa yang ikut les privat atau bimbingan tes? Mereka kalah oleh siswa-siswa yang memiliki keterbatasan. Jika ada orang yang berteriak mencela. Anggap saja itu sebagai teriakan supporter di tengah laga. Tutup telinga dan terus berusaha adalah sikap yang terbaik. Adam Khoo dan ketiga siswa SMP tadi telah membuktikan bahwa mereka dapat merubah kaleng menjadi baja. Mereka tak peduli masa lalu, ejekan teman, atau keterbatasan geografis dan ekonomi. Di pikiran mereka hanya sukses meraih hasil yang mereka inginkan dengan hasil yang terbaik. Tak ada alasan untuk kalah sebelum bertanding. Jika mereka mampu, kenapa kita tidak? Man Jadda Wa Jada (barangsiapa bersungguh-sungguh, maka akan mendapat)-pepatah arab- Siko Dian Sigit Wiyanto
Dahulu, di sebuah daerah di Singapura, tinggallah seorang anak yang mulai memasuki bangku sekolah. Orang tuanya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, prestasi belajarnya selalu merah. Ia memang bukan orang yang suka membaca. Pikirannya hanya berkisar main komputer dan nonton TV. Maka tidak heran banyak nilai F bertaburan di raportnya. Akhirnya ia dipindah ke sekolah menengah yang baru dan tak banyak orang tahu. Dari 160 siswa, ia berada di 10 peringkat terbawah. Suatu ketika, ia mengikuti sebuah pelatihan bagaimana belajar yang baik. Setelah meninggakan tempat pelatihan, ia membawa pikiran positif dengan bekal belajar cerdas dari pelatihan itu. Ketika ia menjawab pertanyaan gurunya, jawaban yang ia berikan lengkap. Semua orang penasaran. Gurunya bertanya, apa yang telah terjadi dengan murid underdog itu. Ia menjawab bahwa ia akan masuk ke Victoria Junior College lalu melanjutkan ke National University. Guru dan teman-temannya menganggapnya gila. Akhirnya, ia benar-benar berhasil mewujudkan impiannya itu, masuk ke Victoria Junior College dan masuk ke National University of Singapore (NUS), universitas nomor satu se-Singapura. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi 1% mahasiswa terbaik sehingga masuk ke NUS Talent Development Programme. Ia adalah Adam Khoo, trainer Super Teen sukses di Singapura. Sang jenius yang dulu sering dijuluki idiot. Ia berhasil mengubah kaleng menjadi baja. Hasil Ujian Nasional SMP tahun ini mencengangkan. Fitriayan Dwi Rahayu, siswi SMP Negeri 1 Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah, Ni Made Yuli Lestari dari SMP Negeri 1 Gianyar, Bali, serta Ni Kadek Indra Puspayanti, siswi SMP Negeri Abiansemal, Badung, Bali, dengan rata-rata nilai 9,95. Mereka semua bukan dari kota besar. Mereka semua perempuan. Mereka semua bukan dari keluarga kaya. Tapi prestasinya sungguh nyata. Bagaimana prestasi dengan siswa yang ikut les privat atau bimbingan tes? Mereka kalah oleh siswa-siswa yang memiliki keterbatasan. Jika ada orang yang berteriak mencela. Anggap saja itu sebagai teriakan supporter di tengah laga. Tutup telinga dan terus berusaha adalah sikap yang terbaik. Adam Khoo dan ketiga siswa SMP tadi telah membuktikan bahwa mereka dapat merubah kaleng menjadi baja. Mereka tak peduli masa lalu, ejekan teman, atau keterbatasan geografis dan ekonomi. Di pikiran mereka hanya sukses meraih hasil yang mereka inginkan dengan hasil yang terbaik. Tak ada alasan untuk kalah sebelum bertanding. Jika mereka mampu, kenapa kita tidak? Man Jadda Wa Jada (barangsiapa bersungguh-sungguh, maka akan mendapat)-pepatah arab- Siko Dian Sigit Wiyanto
kesempatan itu tidak hanya datang sekali. Ia bisa datang berkali-kali tergantung dari sense kita yang merasakannya. Banyak orang melewatkan kesempatan hanya karena merasa tak pantas mendapatkannya. Hingga kemudian ia menyadari bahwa perasaannya tersebut menipunya. Perasaan itu merupakan mental block yang kerap menghalangi seseorang meraih impiannya. Dalam suatu trainingnya Robert T Kiyosaki menyodorkan sejumlah uang kepada seluruh pesertanya. Ia mengatakan, adakah yang mau mengambil uang itu. Anehnya, tidak ada satupun peserta yang maju ke depan untuk mengambilnya. Usut punya usut, di benak pikiran peserta banyak pikiran berkecamuk. Misalnya, jangan-jangan tawaran itu bohong semata alias Robert sedang main-main. Padahal Robert waktu itu tidak main. Para peserta lah yang mempermainkan kesempatan. Kesempatan itu tak hanya datang sekali. Ia bisa datang kapan saja ketika kita siap. Artinya kita aktif untuk menjemput kesempatan itu. Caranya dengan berlatih. Ketika kita sudah merasa siap, maka tak heran kesempatan keliatan datang begitu mudahnya. Ketakutan lah yang selama ini menutup pintu kesempatan itu. Seringkali kita harus mendatangkan kesempatan itu sendiri dengan berani. Mario Teguh mengatakan, keberanian membuat keajaiban. Kedua, untuk memperluas kesempatan adalah dengan membuat jejaring. Kita sebenarnya hanya terpaut dari beberapa orang saja untuk berkomunikasi dengan orang yang ingin kita hubungi. Tidak percaya? Silakan lihat di facebook. Ketika kita ingin menambahkan seorang teman, ternyata ia telah memiliki mutual friend dengan kita. Lagipula itu sering terjadi. Jika suatu saat kita harus berhadapan dengan seseorang yang sama sekali belum kita kenal, maka bisa jadi salah satu teman jejaring kita mengenalnya dan bersedia menjadi mediator. Dunia ini terdiri dari berbagai bidang. Jejaring yang baik adalah terdiri dari berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda, khususnya dengan disiplin ilmu. Ketika seseorang telah masuk dunia kerja, ia harus siap bahwa pekerjaannya menuntut dirinya berhubungan dengan orang yang memiliki latar pendidikan yang berbeda. Seperti ketika seorang akuntan harus berhubungan dengan ahli hukum karena terkait peraturan perundang-undangan tentang akuntan. Bos PT Dua Kelinci ketika ditanya mengenai apa resep rahasia bisnisnya, ia menyebutkan bahwa jangan pikirkan dahulu modal dalam uang, perluas dulu jaringan. Bisa jadi, ada teman yang mau bekerjama. Kemampuan seseorang dalam membentuk jaringan adalah salah satu softskill yang harus dimiliki sekarang ini. Siko Dian Sigit Wiyanto
Ketika kita mengendarai sepeda motor atau mobil, kita akan sering menengok ke dashboard. Di sana ada jarum yang menunjukkan angka kecepatan. Semakin besar angka yang ditunjukkan laju mobil maka semakin kencang jalannya. Jika kita memilih motor untuk balapan, maka sudah sewajarnya kita memilih yang paling cepat. Begitulah dengan Indikator Kinerja Utama (Key performance Indicator). Dalam manajemen moderen Key Performance Indikator (KPI) adalah tolok ukur untuk menentukan arah kebijakan suatu entitas. Jika sampai salah menentukan KPI, maka keberhasilan entitas lah yang dipertaruhkan. Bisa saja orang salah melihat jarum. Angka putaran mesin dapat dikira angka kecepatan, padahal keduanya berbeda. Memang kita membutuhkan kejelian dalam menentukan indikator kinerja. Mudah bagi perusahaan penjualan menentukan KPInya, tinggal dilihat saja omset penjualan dan laba bersih yang dicapai. Sementara susah ketika kita harus mengukur kinerja organisasi nirlaba. Masalahnya adalah tidak semua kinerja dapat dijadikan angka. Padahal tanpa indikator kinerja, kita seperti musafir dalam kegelapan, tidak tahu telah sampai di mana. Kita juga tidak tahu apakah telah berada di jalan yang benar. Banyak entitas salah menentukan KPI. Agar benar dalam menentukan tolok ukur kinerja, maka yang perlu kita perhatikan adalah visi. Misalnya, sekolah menengah teknologi (SMK) memiliki visi "Menjadi sekolah terdepan dalam menyediakan tenaga kerja yang terampil dan mampu memenuhi tuntutan global". Artinya sekolah ini ingin para lulusannya memiliki kompetensi dan terserap oleh pasar tenaga kerja. Jadi KPInya adalah, persentase jumlah alumni yang bekerja setiap tahun. Mau tidak mau SMK ini harus mereformasi sistem informasinya. Memang bukan cara mudah mengetahui apakah seorang alumni sudah bekerja atau belum. Selain itu, KPI harus dapat dirinci sampai kepada unit organisasi terkecil bahkan sampai individu pegawai. Jika di pabrik perakitan komputer, kita mudah mengukur kinerja setiap pegawai. Kita tinggal menghitung berapa jumlah komputer yang bisa dirakit dalam sehari. Namun, kita akan susah mengukur kinerja seorang sekretaris. Apakah dari surat yang ia administrasikan, atau dari jadwal kegiatan sang bos yang ia agendakan, atau dari setiap senyuman yang ia berikan. Butuh dengar pendapat pegawai dalam menentukan KPI agar tidak ada yang merasa dirugikan. Jika pada suatu kendaraan, ketika kita melihat kecepatan sebagai indikator kinerja inti. Maka kita juga harus dapat mengukur kinerja efisiensi bahan bakar, daya aerodinamikanya, daya tahan suspensi, ketegangan rantai, tingkat emisi gas buang dan sebagainya. Indikator kinerja utama dalam pemerintahan adalah hal yang harus dilihat untuk menilai apakah program reformasi birokrasi berhasil (on the track) atau gagal (off the track). Siko Dian Sigit Wiyanto
| |